Sabtu, 01 Maret 2014

Ikhlas

Insya Allah yang amal sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada yang beramal banyak tapi petantang-petenteng dengan amalnya. Sedikit yang ikhlas bagaikan satu benih yang tumbuh dalam tanah penuh berkah, maka dia pun tumbuh menjadi pohon yang baik yang lebat, lalu datanglah hujan rahmat yang menyirami benih keikhlasan itu, maka dia pun tumbuh menjadi sebuah hutan yang terus merimbun. Sedangkan amal yang disertai dengan menepuk dada maka itu seperti sebuah hutan yang dibakar api kesombongan, maka tak tersisalah satu pohon pun apalagi buahnya. Yang tersisa hanyalah arang yang hitam dan abu. Sungguh, akhir yang amat berbeda dari sebuah amal.

Kamis, 28 Februari 2013

Ketergesaan

Salah satu sebab futur (lemah setelah sebelumnya bersemangat) adalah ketergasaan. Anak-anak di usianya yang masih remaja terlalu dipush untuk melakukan ibadah yang berat-berat, apalagi diberikan amanah dakwah yang berat-berat. Insya Allah sesuai pengalaman akan berhasil, berhasil menjadi orang yang paling jauh pada Islam saat dewasa nanti. Bosan, jenuh, tertekan, bahkan kadang merasa terjajah, apalagi membinanya dengan sistem doktrinal militer akan melahirkan jiwa perlawanan dan pemberontakan. Pernah melihat anak remaja yang dulu berjilbab rapat dan rapi, tiba-tiba sekarang semua telah hilang semua kecuali selembar kain pendek yang tersisa di tubuhnya ? Pernah melihat anak rohis yang dulu begitu alim kini terjun dalam pergaulan bebas ?

Satu Merk Tarbiyah

Salah satu kekeliruan terbesar dalam tarbiah membentuk pribadi Muslim adalah anda menginginkan semua orang menjadi Abu Bakar r.a, Umar bin Khatthab, Umar bin Abdul Aziz r.a, Shalahuddin Al Ayyubi rh.a, Muhammad Fatih, dll. Orang-orang seperti ini bukanlah orang yang tiap hari bisa dicetak. Khusus Abu Bakar r.a, dan Umar r.a, 1000 tahun sekali belum tentu ada lagi yang seperti beliau, yang lain mungkin 200-300 tahun sekali muncul juga sudah bagus. Yang wajar-wajar sajalah kalau membina dan mentarbiah seseorang jadi seorang muslim yang baik, bila kita ini sudah menjadi pribadi muslim yang senang bertaubat saja itu sudah bagus sekali di zaman ini. Kadang salah, kadang terpeleset, itu wajar asal jangan pernah meninggalkan taubat. Bentuklah masyarakat Islami dalam tataran yang wajar sesuai kemampuan. Bahkan, dalam beragama pun kita harus realistis

MASYARAKAT ISLAMI


Tidak ada di dunia ini -- dalam zaman apa pun -- sebuah masyarakat yang suci tanpa salah, lingkungan yang steril tidak ada sedikit pun pelanggaran agama. Tidak ada kemaksiatan, tidak ada kemunkaran. Kalau kita berdakwah ingin membentuk masyarakat yang seperti itu, saya yakin anda akan sering merasa kecewa. Sebab tidak ada di dunia ini masyarakat seperti itu. Masyarakat Islami bukanlah masyarakat yang semua suci dan sempurna, tetapi masyarakat Islami adalah masyarakat yang sisi baiknya lebih kuat daripada sisi buruknya dan kebaikan itu terus menerus aktif dalam bentuknya yang saling menasihati dan saling memperingatkan satu sama lain. Itulah masyarakat Islami yang sehat. Jadi bila ada 70 % masyarakat yang konsisten terhadap agama dan saling peduli satu sama lain dalam masalah kebaikan dan menghindari keburukan, lalu ada 30 % lagi yang gemar bermaksiat. Maka ini sudah Islami sekali di zaman ini.

Berikanlah ruang toleransi " kegagalan dakwah " sebesar 30 % atau 40 % atau berapa yang sesuai dalam hitungan anda agar anda tidak shock ketika melihat 1 atau 2 kemunkaran seolah-olah semua bangunan dakwah anda hancur dan masyarakat telah rusak semua. Dakwah bukanlah untuk menyucikan masyarakat, sebab bila masyarakat semua sudah tidak ada yang salah maka hilanglah hikma syariat berdakwah. Dakwah adalah tabligh, menyampaikan yang benar. Urusan masyarakat mau mengikuti atau tidak itu pertanggungjawaban mereka dengan Allah, adapun tanggungjawab kita telah usai. Adapun bila masyarakat berbondong-bondong menerima seruan kita, itu sebuah anugerah yang luar biasa dari tuhan kita. Jangan pernah merasa anda bisa menguasai hati-hati manusia, sebab hati mereka dan hati anda adalah milik Allah s.w.t. Tugas kita, hanya menyampaikan, menyampaikan, dan menyampaikan.

Orang Jahat Lebih Mulia?

Orang jahat kadang lebih mulia di sisi Allah, daripada orang yang ingin dipandang shalih. 3 jenis orang yang pertama kali masuk neraka adalah orang yang ingin dipandang shalih semua. Jangan terlalu banyak menceritakan keshalihan diri di ruang publik, sebab rahasiamu dengan tuhanmu telah terbuka di mata manusia dan tidak ada yang menjamin keselamatan amalmu. Rahasia batin adalah tempat perlindungan paling aman bagi amal kita, rahasia cinta kita dengan tuhan kita. Bukankah, prajurit bila telah keluar dari benteng mudah terkena panah musuh ?

Hadits Tergantung Mood

Lagi rame diskusi ilmu hadits " abal-abal. " Kalau hati lagi kurang senang, riwayatnya disebut dhaif dan maudhu. Tapi kalau hati lagi senang karena riwayatnya sesuai harapan, yang tadinya dhaif dan maudhu bisa jadi shahih. Perawi yang katanya matruk, majhul, mudallis, dan lainnya bisa jadi tsiqah, shaduq, rijal bukhari, dll. Wuidiiih ... ngeri, ilmu agama dibajak sedemikian rupa.

Rabu, 27 Februari 2013

TERSIPU DI KOTA SANTRI


Setiap mendengarkan qasidah " kota santri " dari grup qasidah Nasida Ria yang terkenang adalah setiap acara Haul di Pesantren Buntet, Cirebon. Ramai bukan alang kepalang, ribuan orang datang dari mana-mana. Hilir mudik para santri putra dan putri ke sana ke mari, syahdu sekali. Bercampur banyaknya orang berjualan beragam makanan, jajanan, dan pakaian, meriah sekali. Dan sebagai anak yang tumbuh remaja, salah satu " kenakalan " anak tanggung seusia begitu, adalah menggoda para santri putri yang akan pergi mengaji. Dan mereka pun tertunduk- tersipu malu saat digoda kami. Ya, tersipu malu sebuah pemandangan yang hampir sudah sulit ditemukan pada para putri kita hari ini.

Cari Suami Jelek

Inti ibadah adalah sabar atas apa yang tidak kita suka. Karena itu kemuliaan adalah orang yang meninggalkan apa yang dia suka dan mengerjakan apa yang tidak dia suka. Shalat kita tidak suka, kita kerjakan maka kita jadi mulia. Zina kita suka, kita tinggalkan maka jadi mulia.

Jadi para akhwat, carilah suami yang jelek-jelek, niscaya kalian mulia he..he..

Natalan Bersama

Setelah Ummat Islam bersitegang dalam waktu yang lama dalam hal ini yang diwakili Masyumi yang kokoh menyuarakan Syariat Islam. Pemerintah mencoba mendekati Ulama dengan memfasilitasi mereka membentuk MUI, dan Hamka lah yang terpilih sebagai ketuanya. Hubungan dengan pemerintah pun kembali mesra, Hamka sering didaulat menjadi khatib dalam khutbah resmi kenegaraan. Di saat mesra-mesranya, pemerintah mencoba merangkul semua agama maka lahirlah acara Natalan Bersama. MUI yang sebelumnya diharapkan menjadi bak stempel pemerintah, tanpa diduga di bawah pimpinan Hamka mengeluarkan fatwa haram natalan bersama tanpa mempedulikan manusia suka atau tidak suka, Hamka mengeluarkan fatwa tersebut. Dan yang pertama kali menolak adalah Menteri Agama, Letjen Alamsjah Ratu Prawiranegara. Hamka tidak peduli, Alamsjah suka atau tidak suka, fatwa haram itu kini kekal sampai hari ini.

Selasa, 26 Februari 2013

Aktivis Islam Ideal

Para aktivis Islam Indonesia Ideal bagi saya adalah seperti Buya Hamka dan M. Natsir, muda, cerdas, santun, sederhana, dan teguh pendirian. Jadi kalau ada aktivis Islam Indonesia, muda, tidak cerdas, malas belajar dan membaca, hanya senang ikut sana-ikut sini tanpa pendirian, modal galak doang, suka kagetan kalau punya uang, dan plin-plan ketika telah berkuasa, waaah itu sih kemunduran besar bagi ummat Islam ini.

Membaca kisah-kisah mereka, Hamka, Natsir, Isa Anshari, Agus Salim, dll kita merasa bahwa kita hari ini tidak ada apa-apanya, nothing. Tapi karena kebodohan kita, kita selama ini merasa kita adalah ' something. ' Saatnya bagi kita bangun saudara-saudaraku. Jangan bangga hanya badan besar, jago berantem, jago kungfu saja. Ini abad 21 bukan abad 5 M yang hanya mengandalkan kekuatan otot barbarian. Mari kita teladani mereka, dan kita bongkar semua sikap " sok hebat " kita yang menggelikan. Kita ini zero, tapi merasa hero. Subhanallah ... la haula wala quwwata illa billah

Masih Tentang Jamaah

Bila saya harus lagi menjelaskan makna jamaah dengan sederhana, maka saya akan mengutip perkataan Abdullah bin Mubarak r.a saat ditanya siapakah jamaah itu ? Apakah beliau menjawab bahwa jamaah itu hanyalah sekumpulan manusia yang terorganisir walau itu adalah organisasi Abu Jahal, Abu Lahab dan pembesar kaum jahiliah Quraisy ? Tidak, bukan itu jawaban beliau. Siapakah al jamaah menurut Abdullah bin Mubarak yang agung itu ? " Abu Bakar dan Umar r.a "

Saat dikatakan padanya, " Abu Bakar dan Umar r.a telah mati. " Maka beliau menjawab, Jamaah adalah fulan dan fulan. Saat dikatakan, " fulan dan fulan telah mati. " Maka Abdullah bin Mubarak r.a menyebut jamaah adalah " Abu Hamzah As Sukri (Muhammad bin Maimun Al Marwazi w. 168 H "

Menjelaskan kalimat ini Imam Asy Syathibi mengatakan, kenapa Abu Hamzah disebut jamaah karena beliau adalah seorang yang agung dan shalih yang mengikuti manhaj salafusshalih, yang mengikuti jamaah ahlil haqq. Maka yang diambil pelajaran bukanlah banyaknya, tetapi kesesuaian mereka dengan sunnah dan jauhnya mereka dari bid'ah. Maka yang mengatakan bid'ah itu boleh bila telah banyak pengikutnya, dalil mereka terbantah. -- wallahu a'lam #seri al jamaah

Terpecah 73 Golongan

Bila saya harus menjelaskan dengan satu kalimat yang paling pendek atas makna hadits ini :

" sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan 1 golongan di surga, maka itulah al jamaah "

Maka saya akan menjelaskannya melalui orang yang paling paham terhadap Sunnah, orang yang sangat dekat dengan pemilik hadits ini, seorang sahabat yang amat mulia, Abdullah Ibnu Mas'ud r.a :

" sesungguhnya jamaah adalah orang yang menetapi ketaatan pada Allah walau engkau sendiri "

Masihkah engkau wahai saudaraku, memahami jamaah hanyalah segerombolan manusia walau itu adalah sekelompok orang yang bermaksiat pada Allah ? #seri al jamaah

Berpisah Dari Jamaah

Bila saya harus menjelaskan makna :

" barangsiapa yang berpisah dari jamaah walau sejengkal maka dia akan mati dalam keadaan jahiliah "

dengan satu kalimat paling pendek dan paling sederhana serta mudah dicerna, maka saya akan menjelaskannya dengan kalimat Imam Al Auza'i yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam menjelaskan hadits ini :

" dia adalah seorang yang membawa bid'ah dan keluar dari jamaah (ahlul haqq) sebab -- bila ditafsirkan secara dzahir -- artinya orang yang keluar menyendiri dari jamaah menyepi dalam pedalaman untuk membersihkan diri maka itu adalah keringanan yang dibolehkan (dalam agama) "

seperti diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud riwayat Miqdam Bin Syuraih dari ayahnya bahwasanya beliau bertanya pada Aisyah r.a, " apakah Nabi s.a.w pernah menyepi ? " maka Aisyah menjawab, " ya, di perbukitan ini "

Inilah perkataan mereka para Imam Ahli Hadits, dan bagaimana perkataanmu wahai para pemuda yang menafsir hadits berdasarkan ilmu kira-kira dan membaca haditsnya melalui buku terjemahan ?

DAN MATAHARI MULAI TEMARAM


Kita hanyalah seperti ulat yang dimakan burung siang tadi
Hidup sebentar lalu mati, ada dan tiada hanya dijeda satu kejap mata saja
Bergerak-gerak, menggeliat, lalu fana dalam paruh burung gereja
Yang terbang membawanya jauh ke angkasa, dalam pesta makan siangnya.
Hiruk pikuk dunia tiadalah seberapa dengan pikuk yang akan segera tiba.
Dimaki manusia sudah tidak ada rasanya bila melihat gemuruh akhir kehidupan
Gempita senja tadi, hanya buih yang akhirnya sirna dalam bilangan detak.
Tertawa kita hari ini, tiba-tiba menjadi sepi ketika panggung kehidupan mulai dirapikan
Kelir sudah dilipat, tirai telah disimpan, dan para pelaku telah dimasukkan ke dalam kotak, dan matahari mulai tampak menua bersama temaram sinarnya

*renungan penutup malam

RUJUKAN AHLU SUNNAH WAL JAMAAH DALAM BERAGAMA

-- Lanjutan Status Makna Jamaah Secara Ideologis --

1. Al Qur'an
2. Sunnah yang shahih
3. Ijma
4. Qiyas yang benar

Kaidah Ahlus sunnah dalam memahami Al Qur'an dan Sunnah adalah :

1. Al Qur'an dan sunnah dipahami dengan melihat ayat-ayat atau hadits yang shahih yang menjelaskan sebuah makna dari ayat atau hadits tersebut.
2. Setiap sunnah yang terbukti shahih dari Nabi s.a.w wajib diterima walau itu hadits ahad.
3. Bila tidak ada penjelasan dari ayat atau hadits atas sebuah ayat atau hadits yang bersifat umum, maka pemahaman kedua nash tersebut dapat dipahami dari pemahaman para shahabat Nabi s.a.w baik berupa perkataan mereka atau pun perbuatan mereka dalam mengamalkan kedua nash tersebut, sebab pada mereka lah Al Qur'an diturunkan, tentang mereka lah Al Qur'an berbicara, dan bersama mereka lah Rasulullah s.a.w hidup, atau melihat penjelasan para imam ummat ini yang berjalan di atas jalan dan manhaj para shahabat, tabi'in, dan atba tabi'in sebab ketiga generasi inilah yang telah dijamin keutamaannya oleh Nabi s.a.w.
4. Atau memahaminya melalui kaidah-kaidah bahasa Arab yang benar selama pemahaman secara bahasa ini tidak bertentangan dengan penjelasan yang tegas yang datang dari Nabi s.a.w atau dari ayat Al Qur'an lainnya yang merinci suatu ayat lain.

Ini adalah beberapa kaidah umum, yang detailnya tentu harus dipelajari secara intensif dengan seorang yang terpercaya ilmu dan amalnya.

*Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama'ah dengan redaksi bebas substantif

Senin, 25 Februari 2013

MAKNA AL JAMAAH SECARA IDEOLOGIS


Membahas makna Al Jama'ah maka tidak lepas dari rumah besarnya yaitu Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, apa itu Ahlu Sunnah wal Jama'ah ? Mereka adalah orang yang berada di atas jalan yang ditempuh Nabi s.a.w dan para sahabat beliau -- radhiallahu anhum. Maka, Ahlu Sunnah wal Jama'ah bukanlah kartu tanda anggota keormasan, bukan organisasi massa yang terdaftar di DEPDAGRI, bukanlah kelompok pengajian dengan simbol merek tertentu seperti jenggotan, celana cingkrang, jidat hitam (walau itu adalah syiar Islam), atau dengan simbol sebaliknya berpeci, sarungan, sering baca yasin dan tahlilan. Dia adalah nilai, dia adalah ajaran, dia dalah dogma yang lintas simbol, lintas ormas, lintas partai. Siapa saja yang berada di jalan itu dialah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dan siapa yang keluar dari jalan itu dialah ahlul firaq wal bid'ah walau mengaku ahlu sunnah wal jamaah. Pengakuan tidak penting di sini, yang penting adalah kesamaan dan kesesuaian nilai.

Kenapa disebut Ahlu Sunnah ? Karena mereka mengikuti sunnah Nabi mereka dan berpegang teguh dengannya -- shallallahu alaihi wasallam. Kenapa mereka disebut AL JAMA'AH ? Karena mereka mengikuti jamaah ahlul haqq yaitu jamaah ash shahabah (para sahabat Nabi s.a.w), mereka berkumpul di atas jalan dan manhaj mereka, mengikuti kafilah mereka, mengikuti ijma mereka dan generasi setelahnya dan tidak keluar dari jalan mereka. Inilah satu kafilah yang Nabi s.a.w adalah pemimpinnaya, para sahabat pengiringnya dan kita adalah yang mengikuti jejak-jejak mereka dengan baik. Karena itu siapa pun setelah mereka yang mengikuti mereka disebut Al JAMAAH walau satu orang karena dinisbatkan kepada mereka, jamaah yang pertama yaitu jamaah para shahabat. Karena itu secara singkat Imam Ibnu Qayyim Al Jauziah menyebut AL JAMAAH adalah AL HAQ walau satu orang. Kenapa satu orang disebut AL JAMA'AH karena yang satu ini adalah bagian dari segolongan besar orang yang telah mendahului mereka. Jadi, bila di akhir zaman menjelang hari kiamat, misalhnya hanya tersisa satu orang saja yang mengikut manhaj Nabi s.a.w dan para sahabatnya dalam beragama, maka yang satu inilah yang disebut AL JAMA'AH walau dia sendiri, sedangkan yang banyak itu disebut ahlul firaq wal bid'ah (pecahan-pecahan kelompok pengikut bid'ah). Wallahu a'lam

*Mujmal Ushul Ahlu Sunnah dengan redaksi bebas substantif dan penambahan dari penulis

PERSONIFIKASI NILAI


Kita dulu sudah pernah membahas di akun LANGLANG BUANA (I) bahwa kadang kita mengalami kekeliruan berfikir berupa personifikasi nilai. Seperti Soeharto dulu menganggap setiap orang mengkritik dirinya atau tidak setuju dengan perbuatannya maka langsung dicap anti pancasila. Padahal pancasila dan Soeharto jelas dua hal yang berbeda. Saat ini, sering kita melihat pola pikir terbalik ini digunakan banyak aktivis gerakan Islam. Kalau kita tidak setuju mereka, lantas dicap anti-khilafah. Padahal kita tidak anti-khilafah, kita hanya tidak setuju pada sebagian sikap dan pola pikir kadernya. Begitu juga ketika kita tidak setuju dengan kelompok lain kita pun langsung dicap anti-dakwah, anti-Islam, anti-ahlus sunnah. Padahal Islam, dakwah, dan ahlu sunnah tidaklah secara diametrikal mereka. Anda orang Indonesia, tapi Indonesia bukan hanya anda. Personifikasi nilai inilah yang akhirnya melahirkan sikap memonopoli kebenaran, memonopoli Islam, memonopoli dakwah, memonopoli khilafah, memonopoli ahlu sunnah. Apa yang terjadi pada mereka itulah Islam, kemenangan mereka adalah kemenangan Islam, kekalahan mereka adalah kekalahan Islam, tidak suka mereka adalah tidak suka Islam. Wah, ini sangat berbahaya pola pikir seperti ini. Soeharto sejak 1965 telah membunuh jutaan manusia atas dalil anti pancasila, memenjarakan para tokoh politik, dan menculik aktivis, di antaranya Alm. Pak Natsir. Padahal kalau ditanya, siapa yang lebih pancasilais, Soeharto atau Natsir ? Jelas Natsir adalah Islamis dan pancasilais sejati. Pola pikir seperti ini akan melahirkan otoritarianisme, kami benar dan selain kami salah. Kami hizbullah dan selain hizbusysyaithan. Mungkin otoritarianisme itu tidak lagi dalam skala pembunuhan, sebab itu adalah otoritarianisme yang berbalut sadisme, tetapi dalam skala yang lebih kecil adalah penaifan orang lain, kelompok lain dan intoleran terhadap pihak lain. Ini adalah mukaddimah kajian kita, yaitu MENGENAL AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH (Silahkan ikuti status berikutnya)

Minggu, 24 Februari 2013

Gak Usah Pikirin

Murid : ustad, saya punya masalah yang beraaat sekali, berraat terasa di hati ini
Ustad : Kira-kira masih bisa dipikirkan tidak jalan keluarnya.
Murid : Kayaknya sudah enggak ustad, berat sekali
Ustad : Ya udah, enggak usah antum pikirin.

Adab Berdoa

Santri : Mbah Yai, saya mau tanya. Orang mukmin itu berdoa, adabnya harus seperti apa ?
Mba Kyai : kayak orang kelelep kapalnya pecah cuma ada sabatang kayu, di tengah samudra pasifik, ombaknya ganas, tidak ada kapal berlayar, di atas langit di bawah air, tidak ada siapa-siapa cuma dia, air, langit, matahari, angin, dan mungkin ada ikan berbahaya di bawahnya yang siap menyambar. Saat itu dia berdoa dan yakin hanya Allah yang bisa menyelamatkannya. Itulah adab hati orang beriman yang sedang berdoa.

*Majlis Lesehan Madrasah Darut Tauhid (dinukil secara bebas dan dirangkai sesukanya secara substansial dari kitab Az Zuhd Imam Ahmad bin Hanbal)

Belajar Tauhid

Santri : Mbah Yai, sebetulnya apa sih pentingnya belajar ilmu tauhid itu ?
Mbah Kyai : Kamu pernah " tresno " sama wanita ?

Santri : Ya pernah Mbah Yai.
Mbah Kyai : Waktu pendekatan untuk mengambil hatinya kamu pernah melakukan sesuatu lalu ditolak ?

Santri : Pernah Mbah Kyai, saya waktu itu naksir satnri putri sebagai tanda cinta saya padanya, saya kirim surat kalau saya ingin melamarnya. Bersama surat itu saya hadiahkan sebuah baju yang paling bagus Mbah Kyai.
Mbah Kyai : Terus ... ?

Santri : Karena sangat cintanya saya padanya, saya hadiahkan baju yang menurut saya paling bagus dan paling cantik kalau dia kenakan nanti saat menjadi istri saya, saya nyari sendiri baju itu di Mall yang ada di kota Kudus Mbah kyai, dari pesantren saya naik becak ke terminal, lalu dari situ saya naik mobil omprengan buat ke Mall, lalu saya beli baju itu dari uang sangu yang dikasih ibu saya habis jual kambing.
Mbah Kyai : terus diterima ?

Santri : Surat cinta saya itu diterima Mbah Yai, dia sudah bilang ke orang tuanya dan bulan depan saya mau melamarnya. Tapi bajunya yang saya kasih, dikembalikan sama saya, dengan penuh sopan santun dia mohon maaf tidak bisa menerimanya.
Mbah Kyai : kamu tahu kenapa .. ?

Santri : Tidak tahu Mbah Yai.
Mbah Kyai : Memangnya kamu kasih baju apa ... ?

Santri : Baju seksi kayak Aura Kasih yang lagi terkenal itu loh Mbah Yai, mana harganya mahal, saya lihat iklannya di TV yang jualan panci sampai jutaaan itu loh Mbah Yai, padahal untuk nyari agennya di Kudus ini susahe poll, saya musti ke Warnetnya Mas Dedi dulu untuk secing...secing...(searching) gitu lho Mbah Yai.
Mbah : Ya, kamu iku bodo tenan dadi wong. Wong santri putri kok dikasih baju kayak Aura Kasih yo isin anggone. Biar pun suruh pake di rumah kalau dah jadi istri yo tetep ae isin, wong koyo ora anggo klambi. Wong santri putri yo cukup dikasih busana muslimah yang bagus yo wis seneng.

Santri : terus hubungannya sama pertanyaan saya apa Mbah Yai ?
Mbah Yai : Ya itulah pentingnya belajar ilmu tauhid, supaya kenal Gusti Allah. kalau kamu mau nyenengin Gusti Allah tapi gak kenal sama Gusti Allah, ya kayak kamu mau nyenengin calon istri kamu, biar cinta tapi gak kenal, ya sering " keleru dalane " (salah jalannya). Lha wong syarat masuk Islam saja harus ngucap, Asyhadu anlla ilaha illallah (saya bersaksi tiada sesembahan selain Allah). Apa ada orang yang bersaksi kalau tidak tahu dan tidak kenal ? Apa bisa misalnya itu sopo jenenge ? Ya, Anas jadi saksi dalam kasus Nazaruddin tapi Anas tidak kenal Nazaruddin ? ... (Mbah Kyai berhenti sejenak lalu melanjutkan) Kalau ada orang ngaku Asyhadu, saya bersaksi, tapi dia tidak kenal dengan apa yang akan dipersaksikan, itu namanya saksi apa ? Saksi palsu. Jadi kalau ada orang ngaku bersyahadat bahwa Sesembahannya itu Gusti Allah, tapi tidak kenal Gusti Allah berarti pengakuannya apa ? Iya betul, pengakuan palsu alias ngaku-ngaku. Yang diaku belum tentu mau mengakui.

Santri : Contohnya dengan ilmu tauhid Mbah Kyai ?
Mbah Kyai : Lah contohnya kamu shalat, shalat itu perintah gusti Allah toh ? pasti kalau dijalankan Allah senang. Tapi karena kamu tidak belajar ilmu tauhid, badanmu shalat tapi hatimu maksiat.

Santri : Lho kok bisa, gimana maksudnya Mbah Yai ?
Mbah Kyai : Ya badanmu shalat, sujud merendah. tapi hatimu ujub-takabur, nepuk dada, meningggi dan merasa hebat. Itu tanda orang yang tidak belajar ilmu tauhid sampai hakikatnya. Padahal Allah paling benci sama orang yang suka ujub-takabur, membanggakan diri, memuji diri sendiri. Dia kira Allah suka sama shalat orang seperti itu.

Santri : Subhanallah, matur nuwun sanget Mbah Yai atas ilmu yang diberikan.
Mbah Kyai : Ya sudah, kamu sekarang balik ke asrama, kalau sudah dekat waktu nikahnya tolong kabar-kabari saya ya.
Santri : Inggih Mbah Yai, assalamu'alaikum
Mbah Kyai : waalaikum salam wr.wb